Statistik Pengunjung

2870764


Hits hari ini : 91
Total Hits : 2870764

Link Terkait

Tanggal : 3 September 2012
Mengapa harus ber-Indikator Kinerja?
Indikator kinerja menjadi salah satu unsur vital dalam sistem akuntabilitas instansi pemerintah (SAKIP). Keberadaannya menjadi sangat penting dalam setiap tahapan siklus SAKIP, mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan pengumpulan data kinerja, pengukuran kinerja, monitoring dan evaluasi kinerja serta feed back-nya.

Baru-baru ini MenPan & RB telah mempublikasikan hasil evaluasi Laporan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (LAKIP) tahun 2011. Kota Sukabumi menjadi yang terbaik untuk kategori LAKIP Pemerintah Kabupaten/Kota dengan nilai B, sementara Jawa Tengah dan Kalimantan Timur untuk kategori LAKIP Provinsi juga dengan nilai B. Sayang sekali publikasi tersebut tidak memuat secara detail hasil penilaian masing-masing LAKIP Pemerinta Daerah (Pemda) sehingga kita tidak dapat mengidentifikasi secara pasti kelemahan-kelamahan masing-masing LAKIP yang telah dievaluasi.

Namun jika dilihat dari bobot penilaian Evaluasi LAKIP, aspek perencanaan menjadi unsur dengan proporsi terbesar yaitu 35% dari total bobot penilaian LAKIP. Unsur perencanaan meliputi Rencana Pembangunan Janka Menengah Daerah (RPJMD), Rencana Kerja Pemrintah Daerah (RKPD), Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra-SKPD), Rencana Kerja SKPD, Penetapan Kinerja, termasuk Indikator Kinerja, baik ditingkat Pemda maupun SKPD.

Indikator Kinerja

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Indikator merupakan alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan. Sedangkan menurut Menpan, indikator adalah variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan atau status dan memungkinkan dilakukannya pengukuran terhadap perubahanperubahanyang terjadi. Dengan demikian, secara sederhana, indikator dapat kita maknai ‘tanda-tanda’ atau ‘ukuran’ atas sesuatu.

Kinerja secara umum berarti prestasi atau capaian. Sedangkan menurut MenPan, kinerja adalah unjuk kerja, prestasi kerja, tampilan hasil kerja, capaian dalam memperoleh hasil kerja, tingkat kecepatan/efesiensi/produktivitas/efektivitas dalam mencapai tujuan. Dengan demikian, secara umum indikator kinerja merupakan ukuran prestasi atau tanda-tanda atau indikasi kinerja atas pencapaian tujuan atau sasaran.

Mungkin kita semua pernah ke dokter atau paling tidak mengantar keluarga kita ke rumah sakit atau klinik. Umumnya perawat akan mengukur tekanan darah dan suhu badan terlebih dahulu sebelum pasien diperiksa oleh Dokter. Kemudian Dokter akan mengawali pemeriksaan dengan menanyakan keluhan sang pasien. Tekanan darah, suhu badan, dan keluhan pasien adalah ‘tanda-tanda’ yang digunakan oleh dokter untuk mendiagnosa penyakit (kesehatan) pasien.

Kesalahan dalam penentuan ‘tanda-tanda’ atau gejala penyakit akan memungkinkan terjadinya salah diagnosa yang akan menyebabkan salah tindakan medis. Hal ini kemungkinan menyebabkan penyakit sang pasien tidak sembuh bahkan mungkin akan menimbulkan masalah baru, seperti keracunan obat. Dengan demikian ‘tanda-tanda’ atau gejala penyakit menjadi salah satu faktor kritis yang sangat penting dalam penentuan tingkat kesehatan dan penyembuhan seorang pasien.

Jika Pemda kita ibaratkan seperti seorang pasien, dan kesehatan sang pasien merupakan ukuran keberhasilan (kinerja) Pemda, maka gejala atau tanda-tanda atau indikator kinerja merupakan salah satu faktor kritis yang sangat penting untuk mengukur berhasil atau tidaknya sebuah Pemda.

Perumusan indikator kinerja yang tepat dan benar bagi setiap organisasi termasuk Pemda dan unit kerjanya sangat penting. Indikator tersebut akan menjadi dasar/standar untuk mengevaluasi keberhasilan atau kegagalan seorang pimpinan organisasi dalam mewujudkan visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi. Dalam hal ini Gubernur/Bupati/Walikota merupakan pimpinan yang bertanggung jawab atas keberhasilan atau kegagalan pencapaian visi, misi, tujuan, dan sasaran Pemda.

Hasil evaluasi tersebut akan dijadikan dasar untuk merumuskan rekomendasi perbaikan atau rencana aksi selanjutnya. Dengan demikan, kesalahan penetepan indikator kinerja akan mempengaruhi semua tahapan kegiatan organisasi yang dapak memberikan dampak yang signifikan terhadap pencapaian tujuan organisasi.



Download File :


 


Home